Agustus 24, 2012

RHINITIS ALERGI


A. RHINITIS ALERGI
a. Definisi
Definisi menurut WHO ARIA (Allergic Rhinitis and its Impact on Asthma) tahun 2001 Rhinitis alergi adalah kelainan pada hidung dengan gejala bersin-bersin, rinore, rasa gatal dan tersumbat setelah mukosa hidung terpapar alergen yang diperantarai oleh lg E.4
b. Patofisiologi
Rinitis alergi merupakan suatu penyakit inflamasi yang diawali dengan tahap sensitisasi dan diikuti dengan reaksi alergi. Reaksi alergi terdiri dari 2 fase yaitu :4
1. Immediate Phase Allergic Reaction atau Reaksi Alergi Fase Cepat
(RAFC) yang berlangsung sejak kontak dengan alergen sampai 1 jam setelahnya. Munculnya segera dalam 5-30 menit, setelah terpapar dengan alergen spesifik dan gejalanya terdiri dari bersin-bersin, rinore karena hambatan hidung dan atau bronkospasme. Hal ini berhubungan dengan pelepasan amin vasoaktif seperti histamin.
2. Late Phase Allergic Reaction atau Reaksi Alergi Fase Lambat
(RAFL) yang berlangsung 2-4 jam dengan puncak 6-8 jam (fase hiperreaktifitas) setelah pemaparan dan dapat berlangsung sampai 24-48 jam. Muncul dalam 2-8 jam setelah terpapar alergen tanpa pemaparan tambahan. Hal ini berhubungan dengan infiltrasi sel-sel peradangan, eosinofil, neutrofil, basofil, monosit dan CD4 + sel T pada tempat deposisi antigen yang menyebabkan pembengkakan, kongesti dan sekret kental.

c. Klasifikasi Rhinitis Allergi4
Berdasarkan sifat berlangsungnya, rhinitis alergi dibedakan atas :
1.      Rinitis alergi musiman (seasonal, hay fever, pollinosis)
Hanya ada pada negara dengan 4 musim. Alergen penyebabnya spesifik, yaitu tepung sari dan spora jamur.
2.      Rinitis alergi sepanjang tahun (perennial)
Gejala rinitis alergi sepanjang tahun timbul terus-menerus atau intermitten, tanpa variasi musim, dapat ditemukan sepanjang tahun. Penyebab paling sering adalah allergen inhalandan allergen ingestan. Gangguan fisiologik pada golongan perennial lebih ringan dibandingkan dengan golongan musiman tapi karena lebih persisten, maka komplikasinya lebih sering ditemukan.
Berdasarkan ARIA


d. Diagnosis
1. Anamnesa4,6
·         Bersin berulang-ulang
·         Hidung tersumbat.
·         Rinore, pada alergi biasanya bening dan encer, tetapi dapat menjadi kental dan putih keruh atau kekuning-kuningan jika berkembang menjadi infeksi hidung atau infeksi sinus.
·         Hidung gatal dan juga sering disertai gatal pada mata yang kadang-kadang disertai lakrimasi (Konjungtivitis)
·         Evaluasi lingkungan rumah dan sekolah
·         Tanyakan tentang penggunaan obat sebelumnya
·         Tanyakan tentang riwayat keluarga apakah ada penyakit atopik
2. Pemeriksaan Fisik4
·         Rhinoskopi anterior : mukosa edema, basah, warna pucat atau livid disertai secret encer yang banyak. Bila gejala persisten, mukosa inferior tampak hipertrofi





Probst-Grevers-Iro, Basic Otorhinolaryngology, 2006
Gambar 2
·         Gejala spesifik pada anak : allergic shiner, allergic salute, allergic crease, facies adenoid, cobblestone appearance, geographic tongue.

Tabel 1

3. Pemeriksaan penunjang4
·         In Vitro
Hitung eosinofil dalam darah tepi dapat normal atau meningkat. Demikian pula pemeriksaan IgE total Ditemukannya eosinofil dalam jumlah banyak menunjukkan kemungkinan alergi inhalan. Jika basofil (>5sel/lap) mungkin disebabkan alergi makanan, jika ditemukan sel PMN menunjukkan adanya infeksi bakteri. 4
·         In Vivo
Uji intrakutan atau intradermal yang tunggal atau berseri (skin End-point Titration/SET), dilakukan untuk allergen inhalan dengan menyuntikkan allergen dalam berbagai konsentrasi yang bertingkat kepekatannya. Keuntungan SET, selain allergen penyebab juga derajat alergi serta dosis inisial untuk desensitisasi dapat diketahui.4

Untuk allergen makanan, dilakukan Intracutaneus Provocative Dilutional Food Test (IPDFT), sebagai baku emas dapat dengan diet eliminasi dan provokasi (Challenge Test). Pada Challenge test, makanan yang dicurigai diberikan pada pasien setelah berpantang selama 5 hari, selanjutnya diamati reaksinya. Pada diet eliminasi, jenis makanan setiap kali dihilangkan dari menu makanan sampai suatu ketika gejala menghilang dengan meniadakan suatu jenis makanan. 4

4. Tatalaksana
Ø  Hindari kontak dengan allergen penyebabnya dan eliminasi
Ø  Medikamentosa :
-          Antihistamin
Antihistamin efektif mengurangi gejala gatal, bersin dan rinore dan digunakan sebagai terapi first-line pada rhinitis alergi. 7
-generasi-1 (sedatif) : bersifat lipofilik, menembus sawar darah otak dan plasenta serta mempunyai efek kolinergik. Contohnya difenhidramin, klorfeniramin, prometasin, siproheptadin, yang secara topical contohnya azelastin.4
-generasi-2 (non sedatif) : bersifat lipofobik, sulit menembus sawar darah otak, bersifat selektif mengikat reseptor H-1 perifer dan tidak mempunyai efek anti kolinergik, antiadrenergik dan efek pada SSP minimal. Dibagi 2 golongan, pertama adalah astemisol dan terfenedin mempunyai efek kardiotoksik, kelompok kedua adalah loratadin, setirisin, fexofenadin, desloratadin dan levosetirisin.4
-          Simpatomimetik golongan agonis adrenergik alfa
Dipakai sebagai dekongestan hidung oral dengan atau tanpa kombinasi dengan antihistamin atau topical. Dekongestan oral kontraindikasi pada pasien yang mengkonsumsi MAOI atau dengan hipertensi tidak terkontrol atau penyakit arteri koroner yang berat. Pemakaian secara topical hanya boleh beberapa hari saja (4-5 hari) untuk menghindari terjadinya rhinitis medikamentosa.4,7
-          Kortikosteroid
Dipilih bila gejala gejala terutama sumbatan hidung tidak berhasil diatasi dengan obat lain. Yang sering dipakai adalah kortikosteroid topical (beklometason, budenosid, triamsinolon, flutikason) yang bekerja untuk mengurangi jumlah sel matosit pada mukosa hidung, mencegah pengeluaran protein sitotoksik dan eosinofil, mengurangi aktifitas limfosit, mencegah bocornya plasma sehingga menyebabkan epitel hidung tidak hiperesponsif terhadap rangsangan allergen. 4
-          Antikolinergik topical
Yaitu ipratropium bromide, bermanfaat untuk mengatasi rinore karena aktifitas inhibisi reseptor kolinergik pada permukaan sel efektor. Antikolinergik menurunkan produksi mucus dan mengurangi rinore. 4,7
-          Pengobatan lain à anti leukotrien, anti IgE, DNA rekombinan4
Leukotrien inhibitor merupakan medikasi kelas terbaru yang digunakan untuk rhinitis alergi. Beberapa studi besar menunjukkan penurunan gejala seperti gatal, sneezing, rinore dan kongesti. Keefektifan terlihat ketika dikombinasikan dengan antihistamin oral tetapi studi menunjukkan kortikosteroid inhalasi memiliki perbaikan lebih baik untuk gejala obstruksi nasal dibandingkan dengan leukotrien inhibitor.leukotrien inhibitor merupakan first line therapy untuk pasien dengan asma persisten. 4,7
Ø  Operatif
Tindakan konkotomi parsial (pemotongan sebagian konka inferior), konkoplasti atau multiple outfractured, inferior turbinoplasty perlu dipikirkan bila konka inferior hipertrofi berat dan tidak berhasil dikecilkan dengan kauterisasi memakai AgNO3 25% atau triklor asetat.4
Ø  Imunoterapi
Dilakukan pada alergi inhalan dengan gejala berat dan sudah berlangsung lama serta dengan pengobatan cara lain tidak memberikan hasil memuaskan. Tujuannya adalah pembentukan IgG blocking antibody dan penurunan IgE. 2 metode yang umum dilakukan yaitu intradermal dan sublingual.4

Bagan



5. Komplikasi4
·         Polip hidung
·         Otitis media efusi yang sering residif
·         Sinusitis paranasal

  1.  The Prime Health. Rhinorrhea – Definition, Symptoms, Causes, Diagnosis and Treatment.  2010. Available from URL: http://www.primehealthchannel.com/rhinorrhea-definition-symptoms-causes-diagnosis-and-treatment.html
  2.  Wikipedia. 2010. Available from URL: http://en.wikipedia.org/wiki/Rhinorrhea
  3.  http://download.journals.elsevierhealth.com/pdfs/journals/0091-6749/PIIS0091674995702113.pdf
  4. Elise K, dkk. Buku Ajar Ilmu Kesehatan THT, Ed 6. Jakarta: Balai Penerbit FKUI; 2007. hal. 3,128-142, 150-3
  5.  Elizabeth A et al. Management of allergic and non-allergic rhinitis: a primary care summary of the BSACI guideline. 2010. Available from URL: http://www.thepcrj.org/journ/vol19/19_3_217_222.pdf
  6.  Peter S, Harold K. Allergic rhinitis. 2011. Available from URL: http://www.aacijournal.com/content/pdf/1710-1492-7-S1-S3.pdf
  7.  University of Michigan. Allergic Rhinitis Guideline. 2007. Available from URL: http://cme.med.umich.edu/pdf/guideline/allergic07.pdf

Tidak ada komentar: