Agustus 21, 2012

GLAUKOMA


II.1 DEFINISI GLAUKOMA
Glaucoma adalah suatu keadaan di mana tekanan mata seseorang demikian tinggi atau tidak normal sehingga mengakibatkan kerusakan saraf optic dan mengakibatkan gangguan pada sebagian atau seluruh lapang pandang atau buta. Glaucoma akan terjadi bila cairan di dalam bola mata pengalirannya terganggu. Meningkatnya tekanan di dalam bola mata ini disebabkan oleh ketidak-seimbangan antara produksi dan pembuangan cairan dalam bola mata, sehingga merusak
jaringan-jaringan syaraf halus yang ada di retina dan di belakang bola mata. 1,2

II.2 EPIDEMIOLOGI GLAUKOMA
Glaukoma adalah penyebab kebutaan kedua terbesar di dunia setelah katarak. Diperkirakan 66 juta penduduk dunia sampai tahun 2010 akan menderita gangguan penglihatan karena glaukoma. Kebutaan karena glaukoma tidak bisa disembuhkan, tetapi pada kebanyakan kasus glaukoma dapat dikendalikan.2
            Di Indonesia glaucoma merupakan penyebab kebutaan yang ketiga yaitu 0,16% dari penduduk Indonesia. Biasanya dari mereka yang menderita glaucoma pada awalnya tidak banyak mengetahui bahwa mereka menderita glaucoma. Beberapa dari mereka akan mengalami kebutaan pada usia 40,50,60 tahun. Setelah mereka buta akibat glaucoma, penglihatan dan funfsi penglihatannya tidak dapat diperbaiki lagi.1
            Berdasarkan Survei Kesehatan Indera Penglihatan tahun 1993-1996 yang dilakukan oleh Departemen Kesehatan Republik Indonesia didapatkan bahwa glaukoma merupakan penyebab kebutaan nomer 2 sesudah katarak (prevalensi 0,16%). Katarak 1,02%, Glaukoma  0,16%, Refraksi 0,11% dan Retina 0,09%. 3
II.3 ETIOLOGI GLAUKOMA
Bilik anterior dan bilik posterior mata terisi oleh cairan encer yang disebut humor aqueus.4
Fisiologi aquos humour
Humor akuos berperan sebagai pembawa zat makanan dan oksigen untuk organ di dalam mata yang tidak berpembuluh darah yaitu lensa dan kornea, disamping itu juga berguna untuk mengangkut zat buangan hasil metabolisme pada kedua organ tersebut. Adanya cairan tersebut akan mempertahankan bentuk mata dan menimbulkan tekanan dalam bola mata/tekanan intra okuler. Tekanan intraokuler inilah yang berperan dalam terjadinya glaukoma sehingga menimbulkan kerusakan pada saraf optik. Humor akuos diproduksi oleh badan silier, masuk ke dalam bilik mata belakang kemudian mengalir ke bilik mata depan melalui pupil. Setelah sampai ke bilik mata depan humor akuos akan meninggalkan bola mata melalui suatu bangunan yang disebut trabekulum yang terletak di sudut iridokornea. Keseimbangan antara produksi dan pengeluaran/ pembuangan humor akuos inilah yang menentukan jumlah humor akuos di dalam bola mata. 3

[diakses tanggal 17 April 2010]
Jika aliran cairan ini terganggu (biasanya karena penyumbatan yang menghalangi keluarnya cairan dari bilik anterior), maka akan terjadi peningkatan tekanan.4
Peningkatan tekanan intraokuler akan mendorong perbatasan antara saraf optikus dan retina di bagian belakang mata. Akibatnya pasokan darah ke saraf optikus berkurang sehingga sel-sel sarafnya mati. Karena saraf optikus mengalami kemunduran, maka akan terbentuk bintik buta pada lapang pandang mata. Yang pertama terkena adalah lapang pandang tepi, lalu diikuti oleh lapang pandang sentral. Jika tidak diobati, glaukoma pada akhirnya bisa menyebabkan kebutaan. 4


II.4 DIAGNOSIS
Pada penderita dengan dugaan glaukoma dapat dilakukan pemeriksaan sebagai berikut: 3
1.      Biomikroskopi, untuk menentukan kondisi segmen anterior mata, dengan pemeriksaan ini dapat ditentukan apakah glaukomanya merupakan glaukoma primer atau sekunder.
2.      Gonioskopi, menggunakan lensa gonioskop. Pemeriksaan ini bertujuan untuk melihat sudut pembuangan humor akuos sehingga dapat ditentukan jenis glaukomanya sudut terbuka atau tertutup.
3.      Oftalmoskopi, yaitu pemeriksaan untuk menentukan adanya kerusakan saraf optik berdasarkan penilaian bentuk saraf optik menggunakan alat oftalmoskop direk.

[diakses tanggal 17 April 2010]

4.      OCT (Optical Coherent Tomography). Alat ini berguna untuk mengukur ketebalan serabut saraf sekitar papil saraf optik sehingga jika terdapat kerusakan dapat segera dideteksi sebelum terjadi kerusakan lapang pandangan, sehingga glaukoma dapat ditemukan dalam stadium dini
5.      Perimetri, alat ini berguna untuk melihat adanya kelainan lapang pandangan yang disebabkan oleh kerusakan saraf optik.

[diaksses tanggal 17 April 2010]
6.      Tonometri, pemeriksaan ini bertujuan untuk mengukur besarnya tekanan bola mata/tekanan intraokuler/TIO.

II.5 PENANGANAN GLAUKOMA
Tekanan intraokuler (TIO) merupakan faktor penting pada glaukoma meskipun TIO bukan merupakan penentu pada diagnosis glaukoma. Sebagian besar dari jenis glaukoma mempunyai tekanan intraokuler yang tinggi dan menyebabkan timbulnya gejala rasa sakit di mata bahkan menimbulkan penurunan tajam penglihatan dan kelainan lapang pandang. Pada semua jenis glaukoma akan terjadi kerusakan saraf optik baik pada glaukoma dengan tekanan tinggi maupun dengan tekanan rendah, sampai saat ini hanya penurunan TIO yang telah dibuktikan dapat mencegah kerusakan saraf optik lebih lanjut. Jadi tujuan penanganan glaukoma adalah mempertahankan penglihatan dengan jalan mencegah kerusakan saraf optik lebih berat dengan cara menurunkan TIO sampai ke level “TIO aman”. 3
Penanganan glaukoma dilakukan berdasarkan kepada prinsip-prinsip di bawah ini:3
1.      Makin tinggi TIO, makin besar risiko kerusakan saraf optik.
2.      Terdapat beberapa faktor lain selain TIO yang mempengaruhi kerusakan saraf optk, tetapi faktor tsb belum diketahui dengan jelas.
3.      Pada pasien glaukoma, penurunan tekanan akan menurunkan risiko kerusakan lebih lanjut tetapi belum dapat diketahui pada tekanan berapa kerusakan tersebut berhenti, jadi perlu follow-up terus menerus.
4.      Setiap pengobatan atau tindakan untuk menurunkan TIO pasti mempunyai efek samping dan membutuhkan biaya.
5.      Keberhasilan penanganan glaukoma adalah penurunan TIO secukupnya sehingga selama hidup pasien masih mempunyai penglihatan yang bagus, dengan efek samping sekecil mungkin dan biaya seringan mungkin.
Penurunan TIO dapat dilakukan dengan beberapa cara: 3
·         Menurunkan produksi humor akuos ( timolol maleat, inhibitor karbonik anhidrase )
·         Menambah pembuangan humor akuos ( pilokarpin, analog prostaglandin, trabekuloplasti dg laser )
·         Merusak badan silier ( siklokrioterapi, siklofotokoagulasi )
·         Operasi filtrasi (trabekulektomi, pemasangan implant seton, ahmed, molteno)

II.6 KLASIFIKASI GLAUKOMA
            Glaucoma dibagi atas glaucoma primer, sekunder dan congenital.3
II.6.1 Glaukoma Primer
Pada Glaukoma primer tidak diketahui penyebabnya, didapatkan bentuk:

Glaukoma sudut terbuka :
Pada glaukoma sudut terbuka, saluran tempat mengalirnya humor aqueus terbuka, tetapi cairan dari bilik anterior mengalir terlalu lambat. Secara bertahap tekanan akan meningkat (hampir selalu pada kedua mata) dan menyebabkan kerusakan saraf optikus serta penurunan fungsi penglihatan yang progresif.5
Hilangnya fungsi penglihatan dimulai pada tepi lapang pandang dan jika tidak diobati pada akhirnya akan menjalar ke seluruh bagian lapang pandang, menyebabkan kebutaan. 5
Glaukoma sudut terbuka sering terjadi setelah usia 35 tahun, tetapi kadang terjadi pada anak-anak. Penyakit ini cenderung diturunkan dan paling sering ditemukan pada penderita diabetes atau miopia. Glaukoma sudut terbuka lebih sering terjadi dan biasanya penyakit ini lebih berat jika diderita oleh orang kulit hitam.5
Gejala:
Awal : 3
·         mungkin tanpa gejala
·         rasa capai pada mata
·         rasa pegal pada mata
·         fluktuasi tajam penglihatan
·         kadang-kadang melihat seperti pelangi sekitar lampu
Lanjut : 3
·         penyempitan lapang pandang - buta
Pemeriksaan : 3
·         visus mungkin masih baik, kecuali pada stadium lanjut
·         mata tenang
·         bilik mata depan dalam
·         oftalmoskopik: tampak penggaungan yang melebar (CD ratio > 0,5)
·         gonioskopik: sudut terbuka dan normal
·         tonometrik: tekanan > 21 mmHg
·         pemeriksaan lapang pandang: kelainan lapang pandang ( skotoma Bjerrum, skotoma Seidel, skotoma arcuata atau nasal step)
·         OCT: terdapat penipisan serabut saraf .
Untuk pengobatan glaukoma sudut terbuka, obat tetes mata biasanya bisa mengendalikan glaukoma sudut terbuka. Obat yang pertama diberikan adalah beta bloker (misalnya timolol, betaksolol, karteolol, levobunolol atau metipranolol), yang kemungkinan akan mengurangi pembentukan cairan di dalam mata.5
Juga diberikan pilokarpin untuk memperkecil pupil dan meningkatkan pengaliran cairan dari bilik anterior. Obat lainnya yang juga diberikan adalah epinefrin, dipivefrin dan karbakol (untuk memperbaiki pengaliran cairan atau mengurangi pembentukan cairan). 5
Jika glaukoma tidak dapat dikontrol dengan obat-obatan atau efek sampingnya tidak dapat ditolerir oleh penderita, maka dilakukan pembedahan untuk meningkatkan pengaliran cairan dari bilik anterior. Digunakan sinar laser untuk membuat lubang di dalam iris atau dilakukan pembedahan untuk memotong sebagian iris (iridotomi). 5
Glaukoma sudut tertutup
Glaukoma sudut tertutup terjadi jika saluran tempat mengalirnya humor aqueus terhalang oleh iris. 5
Setiap hal yang menyebabkan pelebaran pupil (misalnya cahaya redup, tetes mata pelebar pupil yang digunakan untuk pemeriksaan mata atau obat tertentu), bisa menyebabkan penyumbatan aliran cairan karena terhalang oleh iris. Iris bisa menggeser ke depan dan secara tiba-tiba menutup saluran humor aqueus, sehingga terjadi peningkatan tekanan di dalam mata secara mendadak. 5
            Serangan bisa dipicu oleh pemakaian tetes mata yang melebarkan pupil, atau bisa juga timbul tanpa adanya pemicu. Glaukoma akut lebih sering terjadi pada malam hari karena pupil secara alami akan melebar di bawah cahaya yang redup. 5
Akut : 3
·         rasa sakit berat (cekot-cekot) di mata, dapat sampai sakit kepala dan muntah-muntah.
·         mata merah, berair
·         penglihatan kabur
Kronik : 3
·         gejala hampir sama dengan yang akut tetapi rasa sakit, merah dan kabur dapat hilang dengan sendirinya, dan terjadi serangan berulang beberapa kali. Biasanya rasa sakit kurang berat dibandingkan dengan yang akut.
Pemeriksaan:
Akut : 3
·         visus turun
·         konjungtiva hiperemi
·         kornea keruh/udem
·         bilik mata depan dangkal
·         pupil lebar/lonjong
·         oftalmoskopik: papil mungkin masih normal
·         tonometrik : tekanan intraokuler tinggi, bisa sampai 60 mmHg
·         gonioskopik: sudut tertutup
·         lapang pandang: terdapat kelainan yang tidak khas, atau mungkin masih normal.
Kronik: 3
·         seperti tanda akut tetapi biasanya lebih ringan
·         dijumpai tanda-tanda bahwa proses telah berlangsung berulang dan lama yaitu: degenerasi koenea, atrofi iris, neovaskularisasi iris,glaukoma flecken dan sinekia anterior perifer.
Pengobatan glaukoma sudut tertutup : 5
-          Minum larutan gliserin dan air bisa mengurangi tekanan dan menghentikan serangan glaukoma. Bisa juga diberikan inhibitor karbonik anhidrase (misalnya asetazolamid).
-          Tetes mata pilokarpin menyebabkan pupil mengecil sehingga iris tertarik dan membuka saluran yang tersumbat. Untuk mengontrol tekanan intraokuler bisa diberikan tetes mata beta bloker.
Setelah suatu serangan, pemberian pilokarpin dan beta bloker serta inhibitor karbonik anhidrase biasanya terus dilanjutkan. Pada kasus yang berat, untuk mengurangi tekanan biasanya diberikan manitol intravena (melalui pembuluh darah). 5
Terapi laser untuk membuat lubang pada iris akan membantu mencegah serangan berikutnya dan seringkali bisa menyembuhkan penyakit secara permanen. Jika glaukoma tidak dapat diatasi dengan terapi laser, dilakukan pembedahan untuk membuat lubang pada iris. 5
Jika kedua mata memiliki saluran yang sempit, maka kedua mata diobati meskipun serangan hanya terjadi pada salah satu mata. 5

[diakses tanggal 17 April 2010]
II.6.2 Glaukoma Sekunder
Pada glaukoma jenis ini terjadi akibat penyakit/kelainan mata yang lain misalnya: 3
1.      Inflamasi mata/ uveitis
2.      Trauma yang merusak sudut iridokornea atau menyebabkan iris menutup sudut atau menyebabkan blok pupil atau blok silier.
3.      Kelainan lensa. Misal lensa maju akibat katarak insipien.
4.      Obat-obatan, misal pemakaian steroid yang lama.
5.      Neovaskularisasi sudut, misal pada penderita Diabetes Melitus.
6.      Sindroma pigmentari, disini terdapat sumbatan trabekulum oleh pigmen iris.
7.      Sindroma eksfoliatif, terdapat sumbatan pada trabekulum oleh bahan yang lepas pada sindroma ini.
8.      Kenaikan tahanan vena episklera, misal adanya fistula karotiko-kavernosa.
9.      Operasi mata, misal operasi katarak.
Gejala : 3
Tergantung kecepatan kenaikan TIO, jika kenaikan TIO terjadi perlahan-lahan maka tidak menimbulkan gejala yang nyata. Jika TIO naik dengan cepat dan tinggi maka dapat terjadi gejala sbb :
·         penglihatan kabur
·         mata merah
·         rasa sakit di mata dan sakit kepala.
Pemeriksaan : 3
·         visus turun
·         konjungtiva hiperemi
·         kornea keruh
·         pupil kecil atau lebar, tergantung penyebab. Jika karena uveitis maka pupil kecil dan terdapat sinekia posterior.
·         dijumpai kelainan mata yang lain sesuai dengan penyebab.
·         oftalmoskopi: papil dapat normal atau penggaungan bertambah.
·         gonioskopik : terbuka atau tertutup tergantung penyebab. - tonometrik: tekanan intraokuler > 21 mmHg.
·         lapang pandang: masih normal atau ada kelainan tergantung beratnya penyakit.
Pengobatan glaukoma sekunder tergantung kepada penyebabnya. jika penyebabnya adala peradangan, diberikan kortikosteroid dan obat untuk melebarkan pupil. kadang dilakukan pembedahan. Segera turunkan tekanan intraokuler dengan pemberian: 3
·         Zat hiperosmotik, Gliserol per os atau Mannitol infus.
·         Timolol/ Betaxolol 0,25 - 0,50 % tetes mata, 2 kali sehari
·         Acetazolamide 250 per os, 3 - 4 kali sehari.
·         Terapi penyakit dasar/penyebab dan hentikan pemakaian steroid jika penyebabnya adalah steroid.

II.6.3 Glaukoma kongenitalis
Glaukoma kongenitalis sudah ada sejak lahir dan terjadi akibat gangguan perkembangan pada saluran humor aqueus. Glaukoma kongenitalis seringkali diturunkan. 5
Glaukoma Kongenital ditemukan pada saat kelahiran atau segera setelah kelahiran, biasanya disebabkan oleh sistem saluran pembuangan cairan di dalam mata tidak berfungsi dengan baik. Akibatnya tekanan bola mata meningkat terus dan menyebabkan pembesaran mata bayi, bagian depan mata berair dan berkabut dan peka terhadap cahaya. 2
Gejala: 3
·         fotofobia/takut sinar
·         mata berair
Pemeriksaan:3
·         kornea keruh, membesar
·         mata menonjol
·         tekanan intraokuler naik.
Terapi: 3
·         goniotomi atau
·         trabekulotomi atau
·         trabekulektomi atau
·         pemasangan implant filtrasi
Tidak ada operasi yang memuaskan untuk glaukoma kongenital, sering memerlukan operasi ulangan.  

reff:
1.      Ilyas S. Glaukoma. Ed 3. Jakarta: Sagung Seto; 2007. hal. 2-3.
2. Klinik mata nusantara: glaucoma. [Online]. 2009 [dikutip 14 April 2010]; Tersedia dari: URL: http://www.klinikmatanusantara.com/index.php?option=com_content&task=view&id=124&Itemid=9
3.      Ekantini,R. Diagnosis dan Penanganan Glaukoma. [Online]. 2008. [dikutip 14 April 2010]; Tersedia dari: URL:http://www.rsmyap.com/content/view/70/
4.      Nurcahyo. Glaukoma. [Online]. 2009 [dikutip 14 April 2010]; tersedia dari: URL:http://www.indonesiaindonesia.com/f/13172-glaukoma/
5.      Deteksi dan Pencegahan Glaukoma. [Online]. 2008 [dikutip tanggal 14 April 2010]; Tersedia dari: URL:http://www.indosiar.com/ragam/75005/deteksi-dan-pencegahan-glaukoma

Tidak ada komentar: